fenomena “ayat-ayat cinta”
Mungkin Habiburrahman El Shirazi tidak pernah menyangka suatu saat hasil karyanya akan divisualisasikan dalam bentuk sinematografi, bahkan sampai menarik minat jutaan penduduk Indonesia. Goresan tintanya menghasilkan novel yang mengangkat tema romantisme ala Islam telah menyihir khalayak ramai. Tidak sedikit artikel dan tulisan yang membahas tentang fenomena ayat-ayat cinta, banyak dari komunitas dunia maya yang ingin mengutarakan pendapat mereka tentang novel bergenre satra pop dalam Sastra Indonesia ini, kalo sudah begini, saya tidak ingin ketinggalan.
Tema cinta bernafaskan Islam tidak sering kita temui dalam penulisan sebuah novel. Entah karena memang tidak ada yang mencoba ataupun memang sulit untuk mengedepankan sisi romantisme dan percintaan dalam Islam, dengan harapan bisa memperlihatkan keindahan cinta versi Islam tanpa menyalahi kaidah Islam sebagai agama yang haq.
Ayat-ayat cinta bisa dibilang cukup sukses-walau juga tidak bisa dikatakan sangat sempurna, dalam membawakan kisah percintaan bertemakan Islam. Kekuatan novel ini juga didukung pengalaman sang penulis yang pernah menuntut ilmu di Mesir dan segudang pengalamannya di bidang kesusatraan.
Memang tidak bisa dipungkiri, tokoh-tokoh utama dalam novel tersebut terlalu sempurna, to good to be true bahkan di dalam mimpi sekalipun. Seorang mahasiswa Indonesia bernama Feri (eh salah..Fahri) yang kuliah di Al Azhar,Cairo. Dia pintar, rajin ramah taat beragama, aktifis kampus,romantis dan dicintai oleh gadis-gadis cantik yang akhirnya menikah dengan salah satu gadis tersebut bernama Aisha, muslimah bercadar keturunan Jerman-Turki yang kaya raya. Sesuatu yang sangat sulit ditemukan dalam kehidupan nyata.
Namun sang penulis patut diberikan apresiasi, karena ia “berbicara sesuai kemampuan orang yang diajak bicara”, sehingga apa yang ia tulis mudah dimengerti oleh segmen pembaca, tentunya ini bukan tanpa tujuan. Jika kita telaah lebih dalam lagi, kita akan mendapatkan pesan-pesan dakwah yang terkandung di dalam karangannya. Betapa seorang muslim harus mendahulukan cintanya terhadap Allah SWT dibandingkan dengan apapun yang ada di alam ini, betapa cinta antara dua insan harus didasarkan karena kecintaan kepada ALLAH SWT dan Rasulnya. Dan betapa seorang muslim harus tetap istiqomah menapakkan kaki di jalanNYA.
Secara tidak langsung penulis juga mengajak generasi muda untuk tidak menyerah dalam hidup,berlaku akhlaqul karimah dan memiliki toleransi yang tinggi terhadap sekitar. Kepintaran penulis semakin terlihat setelah semuanya itu dirangkum dalam suatu kisah romantis dan menyentuh hati tanpa mangurangi makna yang terkandung. Tak sedikit orang yang mengucap takjub dan memuji ayat-ayat cintanya Habiburrahman El Shirazi, jadi sudah selayaknya novel ini diangkat ke layar lebar.
Salut buat kang habiburrahman….!!!!







Leave a Reply